SENYUMAN ANAK-ANAK PERBATASAN
Ada 6 sahabat sedang merayakan hari
kelulusannya di sebuah Universitas di Surabaya . setelah mengikuti wisuda
mereka terlihat bahagia tetapi direlung hati paling dalam salah satu dari
mereka yaitu Reno mempunyai sebuah keinginan. Ia pun ingin melontarkan
keinginan itu kepada teman-temannya ia mengajak teman-temannya pergi ke sebuah
cafe . tak ada sepatah katapun muncul dari bibir ke 6 sahabat ini. Tak lama
kemudian “apa yang kau rencanakan setelah selesai kuliah ini ? apakah kau
mencari perkerjaan ? jika iya dimana ?” tanya Elke kepada sahabatnya reno
“sebenarnya aku sudah mendapat tawaran bekerja di BMKG Jogjakarta untuk
meneliti beberapa gunung disana” jawab Reno “tapi , aku punya satu keinginan
yang benar-benar ingin kucapai” lanjut Reno “ha? Apa ?” kata elke melongo
sama dengan teman-teman yang lain menatap Reno juga dengan penuh pertanyaan
“sebenarnya , aku ingin pergi kesebuah pulau di daerah perbatasan sana ..di
Kalimantan Timur , aku ingin membagi ilmu dengan mereka” jelas reno “ha?” ucap
serentak ke 5 temannya itu “insyaallah aku ikut . itu juga adalah keinginanku”
kata Elke “tetapi kita harus meminta izin kepada orang tua juga” sambungnya
“baiklah” jawab mereka serentak . setelah membicarakan masalah ini mereka pun
memutuskan untuk pulang .
Malam pun tiba Reno
memutuskan akan membicarakan ini kepada ibunya . sang ibu tidak mengizinkan Reno untuk pergi sebab sang ibu kuatir
kepada nasib anaknya disana , tetapi Reno berusaha keras meyakinkan ibunya
bahwa ia akan baik-baik saja disana akhirnya ibunya mengizinkannya . meski ada
sedikit hasrat tak rela di raut wajah sang ibu. Setelah mendapat izin dari sang
ibu Reno pun mengirimkan sms kepada teman-temannya “malam.. bagaimana ? apakah
orang tua kalian mengizinkan kalian untuk pergi?” isi sms Reno , satu persatu
dari 5 temannya membalas , dan alhamdulillah orang tua mereka mengizinkan
mereka untuk pergi .
Keesokan harinya ,
Reno kembali mengajak teman-temannya untuk membicarakan ini di Cafe sekitar
tempat ia dulu berkuliah , ia dan teman-temannya berusaha menentukan waktu
kapan mereka akan berangkat ke Kalimantan. Akhirnya salah satu dari temannya
bernama Irfan mempunyai inisiatif untuk berangkat 1 minggu lagi , merekapun
setuju dengan inisiatif irfan .
3 hari menjelang
keberangkatan , Silvi mengadakan berdoa bersama di rumahnya acara ini dihadiri
oleh teman-temannya tentunya beserta orang tua masing-masing .
Hari ini adalah
hari dimana mereka akan berangkat menuju Kalimantan Timur , mereka menaikki
pesawat dari Surabaya menuju ke Bandara di Kalimantan , selanjutnya mereka
harus melalui jalur laut kemudian darat
untuk sampai ke desa perbatasan yaitu desa Ajikuning, kecamatan pulau Sebatik ,
Kalimantan Timur.
Setelah sampai di
Desa ini terlihat banyak orang melihat mereka dengan berbagai tatapan ada yang
melihat mereka dengan tatapan senang dengan kehadiran mereka ada pula yang
menatap mereka dengan tatapan sinis . 6 sahabati hanya melemparkan senyuman ,
Marvell yang asyik memotret aktifitas warga disana pun tersadarkan sebuah
penggilan seperti suara yang pernah ia kenal dan terlihat di ujung sana salah
satu teman mereka bernama Sandy sudah menunggu di depan Balai Kepala Desa .
“nice to meet you” ucap Sandy menyapa ke 6 temannya “nice to meet u too” balas mereka
, disebelah Sandy terlihat Kepala Desa yang juga menyambut mereka dengan
senyuman , selanjutnya mereka diajak untuk masuk kedalam Balai Kepala Desa ,
disana mereka ditanyai apa tujuan mereka datang ke Desa Ajikuning ini , karena
yang mempunyai inisiatif pertama untuk datang kesini adalah Reno maka dari itu
Reno lah yang menjelaskan tujuan ia dan teman-temannya datang ke sini “ kami
ingin membagi ilmu kepada anak-anak disini , saya tau anak-anak disini
mempunyai keterbatasan ilmu lain dengan anak-anak yang ada di kota” reno
memberi penjelasan kepada Kepala Desa “baiklah , selamat datang di desa ini
sebelumnya saya memberitahukan jika di desa ini listrik bisa mati 3-5 kali
dalam sehari” ucap sang Kepala Desa . setelah berbincang-bincang dengan Kepala
Desa , Kepala Desa mengajak mereka ber-6
untuk menginap di rumahnya selama mereka disini , memang rumah-rumah di sini
tidak sebagus rumah-rumah di Kota sana , tetapi rumah-rumah disini nyaman untuk
ditempati suasana disini begitu tak ramai seperti di Kota .
Keesokan harinya
mereka ber-6 berkunjung ke sekolah SD
satu-satunya di Desa itu , bangunanya terlihat bangunan lampau , bahkan
murid-murid disana masih ada yang menggunakan sandal sisanya murid yang
menggunakan sepatu . reno berbicara pada salah satu murid yang bersekolah
disana , mengagetkan memang murid tadi bisa berbicara dengan bahasa Indonesia
tetapi dengan logat orang Malaysia , pertama mereka kira hanya 1 atau 2 orang berbicara dengan logat Malaysia
ternyata 90% murid disini menggunakan logat Malaysia , setelah menyurvei mereka
mencoba memperkenalkan diri dan mulai mendekati murid-murid disekolah ini ,
Silvi mendekati seorang anak laki-laki “adek, namanya siapa?” tanya Silvi
kepada seorang murid laki-laki “rozzaq” jawab murid laki-laki tadi , ia
terlihat masih gugup untuk berbicara kepada Silvi mungkin ia malu “oh, orang
tuanya kerja apa?” tanya Silvi lagi . rozzaq hanya terdiam ia menunduk kebawah
“dek??” Silvi berusaha mendapatkan jawaban dari rozzaq “kerja jadi pembatu
rumah tangga di Malaysia” akhirnya siswa kelas 6 ini menjawab pertanyaan dari
silvi. Mencenangkan memang mulai dari logat bicara , tempat mencari nafkah juga
Malaysia, selanjutnya apa lagi??
Setelah mendekati
beberapa anak di kelas 6 ini , Marvell mulai memberi materi kepada murid-murid
di kelas ini , ia memberi materi Matematika , hanya beberapa anak yang mengerti
materi tersebut . “ini sangat memprihatinkan” ucapnya dalam hati Pelajaran
pun berganti , kini giliran Silvi memberi materi Ipa kepada murid-murid itu .
ternyata dimateri ini banyak murid-murid yang mungkin dikarenakan sekitar rumah
mereka masih asri alamnya.
Hari ini pelajaran
usai , sehari mereka hanya mengikuti dua pelajaran selama 4 jam. Jam pelajaran
disini masih sedikit dikarenakan juga faktor orang tua mereka yang rata-rata
bekerja di kebun jadi mereka harus membantu orang tua yang berladang , kadang
ada beberapa siswa yang tidak masuk sekolah dikarenakan ikut orang tuanya
bekerja di Malaysia
Malam pun tiba
Reno, Marvell, Elke sedang duduk bersantai di depan rumah tiba-tiba Cyntia
menghampiri mereka “eh tadi aku bertemu dengan ibu-ibu.. dia datang dari arah
barat berlawanan arah denganku . saat ku tanyai darimana ia pergi , ia menjawab
ia dari Malaysia habis melakukan persalinan 3 hari yang lalu.. tetapi ku lihat
bayinya tak ada , ku tanyai lagi kemana bayinya. Ia menjawab .. ini.. benar..
benar.. mengejutkan , ia melahirkan di malaysia di sebuah rumah sakit , karena
ia melahirkan secara sesar sementara ia tak mempunyai uang ia di bantu oleh
seorang ibu-ibu dari Malaysia yang tidak mempunyai anak selama 6 tahun, ibu-ibu
dari Malaysia itu akan membayarkan uang persalinan tetapi dengan satu syarat
yaitu menyerahkan bayinya untuk di asuh , dengan terpaksa ibu itu
menandatangani surat pengasuhan anak .. MENGENASKAN! ” cyntia menceritakan
sebuah cerita yang mngagetkan . dimana pertolongan pemerintah ? apa selamanya
kita akan begini ? , teman-teman cyntia menggelengkan kepala ini benar-benar
diluar perkiraan mereka
Hari ini adalah
hari minggu , pagi ini mereka ber-6 memilih berjalan-jalan ke pasar ikan disana
. seperti biasa Marvell asyik memotret-motret kegiatan warga disana , tiba-tiba
mata Reno tertuju pada orang yang sedang marah-marah . ternyata orang itu
adalah seorang RENTENIR , mereka pun langsung menghampiri orang-orang yang
sedang marah-marah tadi “maaf ini ada apa ya” tanya Reno berusaha mengambil
perhatian agar Pelayan itu tidak dipukuli lagi oleh anak buah rentenir “ada apa
? jangan mencampuri urusan aku” ucap rentenir itu dengan logat Malaysianya “loh
, bapak ini siapa ?? main pukul sama orang lagi” balas Reno yang mulai naik
darah “dia punya utang kepadaku , dia tidak bisa membayar maka akan ku ambil
semua hasil lautnya” jelas sanh rentenir “tak bisa begitu .ia tidak akan pernah
bisa bayar hutang-hutang ia sebab hasil lautnya kau ambil ! lintah darat kau!”
kata Reno yang benar-benar sudah naik darah , dengan liciknya rentenir itu
menyuruh anak buahnya memukuli Reno sampai
luka-luka “heii lintah darat . hadapi aku sendiri kalau berani jangan
menyuruh anak buahmu ... DASAR PENGECUTT” sentak Reno kepada rentenir itu
dengan sombongnya rentenir itu meludahi Reno “cuihh” lalu meninggalkannya
“sudah jangan kau lawan wahai anak muda, ia sangat berkuasa disini .. sudahlah
mari kerumahku akan ku obati kau” ucap nelayan tersebut berusaha menurunkan
emosi Reno , akhirnya Reno dan teman-temannya pergi menuju ke rumah nelayan
tadi disana Reno diobati .
Senin , yeepp
waktunya upacara . mereka ber-6 sudah bersiap-siap untuk upacara dengan
menggunakan baju putih-putih . saat mereka datang kesekolah , mengejutkan tak
ada upacara yang dilakukan di sekolah ini, beberapa murid berkata bahwa upacara
hari Senin hanya dialkukan oleh siswa
SMP dan SMA . INI , SANGAAT SALAH !! akhirnya mereka ber-6 memutuskan mengadakan
upacara , merekalah yang menjadi petugas upacara dan murid-murid menjadi
peserta upacara . Setelah mengikuti pelajaran merekapun mengikuti pelajaran
seperti biasa
Tak terasa 1 tahun sudah tinggal di Pulau ini . Silvi
berinisiatif untuk memberi bantuan kepada sekolah disana sebagai
kenang-kenangan karena 1 bulan lagi ia akan kembali ke Surabaya. teman-temannya
pun menyetujui inisiatif Silvi , Silvi memintapertolongan agar ayahnya
mengirimkan buku-buku pelajaran , baju-baju dan 10 komputer dengan menggunakan
uang tabungan mereka ber-6. Telah 2 minggu tapi barang-barang itu tak kunjung
datang, Silvi memutuskan untuk menelfon
ayahnya tetapi ayahnya berkata bahwa barang-barangnya sudah diantar dari 2
minggu yang lalu .
Pagi itu masih jam
5 pagi tiba-tiba *toktoktok* suara ketukan pintu , mengetuk di pintu kamar
Silvi , Cyntia dan Elke . dengan wajah yang masih mengantuk Silvi membuka pintu
kamarnya “Assalamualaikum” ternyata orang tua Silvibeserta orang tua
teman-teman lainnya datang juga “ayah. Mama” Silvi memeluk erat kedua orang
tuanya itu , terlihat teman-teman yang lain juga melakukan hal yang sama
seperti silvi .
Pagi tepat jam 9
mereka pergi menuju ke sekolah untuk memberi bantuan kepada sekolah itu tetapi
sebelum menuju ke sekolah itu mereka terkaget-kaget melihat bantuan itu ada 1
truck . Semua ,ada di dalam truck ini. Ini
diluar dugaan mereka semua orang tua mereka begitu mendukung bahkan
mencarikan relawan yang mau membantu biaya dari rencana ini tentunya tidak dengan jumlah
sedikit. Terlihat murid-murid disana begitu
senang atas bantuan mereka . Saat mereka pamitan akan pulang kembali ke
Surabaya , semua murid di Sekolah itu menangis bahagia, ucapan terimakasih tak
henti-hentinya diucapkan
dari bibir warga desa Ajikuning atas bantuan yang mereka berikan
kepada Desa ini . Keesokan harinya mereka pulang kembali ke Surabaya , doa
warga Ajikuning selalu menyertai mereka .
Tidak ada komentar:
Posting Komentar