Sabtu, 01 Desember 2012

Cerpen "Senyuman Anak-Anak Perbatasan"


SENYUMAN ANAK-ANAK PERBATASAN

              Ada 6 sahabat sedang merayakan hari kelulusannya di sebuah Universitas di Surabaya . setelah mengikuti wisuda mereka terlihat bahagia tetapi direlung hati paling dalam salah satu dari mereka yaitu Reno mempunyai sebuah keinginan. Ia pun ingin melontarkan keinginan itu kepada teman-temannya ia mengajak teman-temannya pergi ke sebuah cafe . tak ada sepatah katapun muncul dari bibir ke 6 sahabat ini. Tak lama kemudian “apa yang kau rencanakan setelah selesai kuliah ini ? apakah kau mencari perkerjaan ? jika iya dimana ?” tanya Elke kepada sahabatnya reno “sebenarnya aku sudah mendapat tawaran bekerja di BMKG Jogjakarta untuk meneliti beberapa gunung disana” jawab Reno “tapi , aku punya satu keinginan yang benar-benar ingin kucapai” lanjut Reno “ha? Apa ?” kata elke melongo sama dengan teman-teman yang lain menatap Reno juga dengan penuh pertanyaan “sebenarnya , aku ingin pergi kesebuah pulau di daerah perbatasan sana ..di Kalimantan Timur , aku ingin membagi ilmu dengan mereka” jelas reno “ha?” ucap serentak ke 5 temannya itu “insyaallah aku ikut . itu juga adalah keinginanku” kata Elke “tetapi kita harus meminta izin kepada orang tua juga” sambungnya “baiklah” jawab mereka serentak . setelah membicarakan masalah ini mereka pun memutuskan untuk pulang .
                             Malam pun tiba Reno memutuskan akan membicarakan ini kepada ibunya . sang ibu tidak mengizinkan Reno untuk pergi sebab sang ibu kuatir kepada nasib anaknya disana , tetapi Reno berusaha keras meyakinkan ibunya bahwa ia akan baik-baik saja disana akhirnya ibunya mengizinkannya . meski ada sedikit hasrat tak rela di raut wajah sang ibu. Setelah mendapat izin dari sang ibu Reno pun mengirimkan sms kepada teman-temannya “malam.. bagaimana ? apakah orang tua kalian mengizinkan kalian untuk pergi?” isi sms Reno , satu persatu dari 5 temannya membalas , dan alhamdulillah orang tua mereka mengizinkan mereka untuk pergi .
                             Keesokan harinya , Reno kembali mengajak teman-temannya untuk membicarakan ini di Cafe sekitar tempat ia dulu berkuliah , ia dan teman-temannya berusaha menentukan waktu kapan mereka akan berangkat ke Kalimantan. Akhirnya salah satu dari temannya bernama Irfan mempunyai inisiatif untuk berangkat 1 minggu lagi , merekapun setuju dengan inisiatif irfan .
                             3 hari menjelang keberangkatan , Silvi mengadakan berdoa bersama di rumahnya acara ini dihadiri oleh teman-temannya tentunya beserta orang tua masing-masing .
                             Hari ini adalah hari dimana mereka akan berangkat menuju Kalimantan Timur , mereka menaikki pesawat dari Surabaya menuju ke Bandara di Kalimantan , selanjutnya mereka harus melalui jalur laut  kemudian darat untuk sampai ke desa perbatasan yaitu desa Ajikuning, kecamatan pulau Sebatik , Kalimantan Timur.
                             Setelah sampai di Desa ini terlihat banyak orang melihat mereka dengan berbagai tatapan ada yang melihat mereka dengan tatapan senang dengan kehadiran mereka ada pula yang menatap mereka dengan tatapan sinis . 6 sahabati hanya melemparkan senyuman , Marvell yang asyik memotret aktifitas warga disana pun tersadarkan sebuah penggilan seperti suara yang pernah ia kenal dan terlihat di ujung sana salah satu teman mereka bernama Sandy sudah menunggu di depan Balai Kepala Desa . “nice to meet you” ucap Sandy menyapa ke 6 temannya “nice to meet u too” balas mereka , disebelah Sandy terlihat Kepala Desa yang juga menyambut mereka dengan senyuman , selanjutnya mereka diajak untuk masuk kedalam Balai Kepala Desa , disana mereka ditanyai apa tujuan mereka datang ke Desa Ajikuning ini , karena yang mempunyai inisiatif pertama untuk datang kesini adalah Reno maka dari itu Reno lah yang menjelaskan tujuan ia dan teman-temannya datang ke sini “ kami ingin membagi ilmu kepada anak-anak disini , saya tau anak-anak disini mempunyai keterbatasan ilmu lain dengan anak-anak yang ada di kota” reno memberi penjelasan kepada Kepala Desa “baiklah , selamat datang di desa ini sebelumnya saya memberitahukan jika di desa ini listrik bisa mati 3-5 kali dalam sehari” ucap sang Kepala Desa . setelah berbincang-bincang dengan Kepala Desa , Kepala Desa  mengajak mereka ber-6 untuk menginap di rumahnya selama mereka disini , memang rumah-rumah di sini tidak sebagus rumah-rumah di Kota sana , tetapi rumah-rumah disini nyaman untuk ditempati suasana disini begitu tak ramai seperti di Kota .
                             Keesokan harinya mereka ber-6 berkunjung   ke sekolah SD satu-satunya di Desa itu , bangunanya terlihat bangunan lampau , bahkan murid-murid disana masih ada yang menggunakan sandal sisanya murid yang menggunakan sepatu . reno berbicara pada salah satu murid yang bersekolah disana , mengagetkan memang murid tadi bisa berbicara dengan bahasa Indonesia tetapi dengan logat orang Malaysia , pertama mereka kira hanya 1  atau 2 orang berbicara dengan logat Malaysia ternyata 90% murid disini menggunakan logat Malaysia , setelah menyurvei mereka mencoba memperkenalkan diri dan mulai mendekati murid-murid disekolah ini , Silvi mendekati seorang anak laki-laki “adek, namanya siapa?” tanya Silvi kepada seorang murid laki-laki “rozzaq” jawab murid laki-laki tadi , ia terlihat masih gugup untuk berbicara kepada Silvi mungkin ia malu “oh, orang tuanya kerja apa?” tanya Silvi lagi . rozzaq hanya terdiam ia menunduk kebawah “dek??” Silvi berusaha mendapatkan jawaban dari rozzaq “kerja jadi pembatu rumah tangga di Malaysia” akhirnya siswa kelas 6 ini menjawab pertanyaan dari silvi. Mencenangkan memang mulai dari logat bicara , tempat mencari nafkah juga Malaysia, selanjutnya apa lagi??
                             Setelah mendekati beberapa anak di kelas 6 ini , Marvell mulai memberi materi kepada murid-murid di kelas ini , ia memberi materi Matematika , hanya beberapa anak yang mengerti materi tersebut . “ini sangat memprihatinkan” ucapnya dalam hati                                                                    Pelajaran pun berganti , kini giliran Silvi memberi materi Ipa kepada murid-murid itu . ternyata dimateri ini banyak murid-murid yang mungkin dikarenakan sekitar rumah mereka masih asri alamnya.
                             Hari ini pelajaran usai , sehari mereka hanya mengikuti dua pelajaran selama 4 jam. Jam pelajaran disini masih sedikit dikarenakan juga faktor orang tua mereka yang rata-rata bekerja di kebun jadi mereka harus membantu orang tua yang berladang , kadang ada beberapa siswa yang tidak masuk sekolah dikarenakan ikut orang tuanya bekerja di Malaysia
                             Malam pun tiba Reno, Marvell, Elke sedang duduk bersantai di depan rumah tiba-tiba Cyntia menghampiri mereka “eh tadi aku bertemu dengan ibu-ibu.. dia datang dari arah barat berlawanan arah denganku . saat ku tanyai darimana ia pergi , ia menjawab ia dari Malaysia habis melakukan persalinan 3 hari yang lalu.. tetapi ku lihat bayinya tak ada , ku tanyai lagi kemana bayinya. Ia menjawab .. ini.. benar.. benar.. mengejutkan , ia melahirkan di malaysia di sebuah rumah sakit , karena ia melahirkan secara sesar sementara ia tak mempunyai uang ia di bantu oleh seorang ibu-ibu dari Malaysia yang tidak mempunyai anak selama 6 tahun, ibu-ibu dari Malaysia itu akan membayarkan uang persalinan tetapi dengan satu syarat yaitu menyerahkan bayinya untuk di asuh , dengan terpaksa ibu itu menandatangani surat pengasuhan anak .. MENGENASKAN! ” cyntia menceritakan sebuah cerita yang mngagetkan . dimana pertolongan pemerintah ? apa selamanya kita akan begini ? , teman-teman cyntia menggelengkan kepala ini benar-benar diluar perkiraan mereka
                             Hari ini adalah hari minggu , pagi ini mereka ber-6 memilih berjalan-jalan ke pasar ikan disana . seperti biasa Marvell asyik memotret-motret kegiatan warga disana , tiba-tiba mata Reno tertuju pada orang yang sedang marah-marah . ternyata orang itu adalah seorang RENTENIR , mereka pun langsung menghampiri orang-orang yang sedang marah-marah tadi “maaf ini ada apa ya” tanya Reno berusaha mengambil perhatian agar Pelayan itu tidak dipukuli lagi oleh anak buah rentenir “ada apa ? jangan mencampuri urusan aku” ucap rentenir itu dengan logat Malaysianya “loh , bapak ini siapa ?? main pukul sama orang lagi” balas Reno yang mulai naik darah “dia punya utang kepadaku , dia tidak bisa membayar maka akan ku ambil semua hasil lautnya” jelas sanh rentenir “tak bisa begitu .ia tidak akan pernah bisa bayar hutang-hutang ia sebab hasil lautnya kau ambil ! lintah darat kau!” kata Reno yang benar-benar sudah naik darah , dengan liciknya rentenir itu menyuruh anak buahnya memukuli Reno sampai  luka-luka “heii lintah darat . hadapi aku sendiri kalau berani jangan menyuruh anak buahmu ... DASAR PENGECUTT” sentak Reno kepada rentenir itu dengan sombongnya rentenir itu meludahi Reno “cuihh” lalu meninggalkannya “sudah jangan kau lawan wahai anak muda, ia sangat berkuasa disini .. sudahlah mari kerumahku akan ku obati kau” ucap nelayan tersebut berusaha menurunkan emosi Reno , akhirnya Reno dan teman-temannya pergi menuju ke rumah nelayan tadi disana Reno diobati .
                             Senin , yeepp waktunya upacara . mereka ber-6 sudah bersiap-siap untuk upacara dengan menggunakan baju putih-putih . saat mereka datang kesekolah , mengejutkan tak ada upacara yang dilakukan di sekolah ini, beberapa murid berkata bahwa upacara hari Senin hanya dialkukan  oleh siswa SMP dan SMA . INI , SANGAAT SALAH !! akhirnya mereka ber-6 memutuskan mengadakan upacara , merekalah yang menjadi petugas upacara dan murid-murid menjadi peserta upacara . Setelah mengikuti pelajaran merekapun mengikuti pelajaran seperti biasa
                             Tak terasa  1 tahun sudah tinggal di Pulau ini . Silvi berinisiatif untuk memberi bantuan kepada sekolah disana sebagai kenang-kenangan karena 1 bulan lagi ia akan kembali ke Surabaya. teman-temannya pun menyetujui inisiatif Silvi , Silvi memintapertolongan agar ayahnya mengirimkan buku-buku pelajaran , baju-baju dan 10 komputer dengan menggunakan uang tabungan mereka ber-6. Telah 2 minggu tapi barang-barang itu tak kunjung datang,  Silvi memutuskan untuk menelfon ayahnya tetapi ayahnya berkata bahwa barang-barangnya sudah diantar dari 2 minggu yang lalu .
                             Pagi itu masih jam 5 pagi tiba-tiba *toktoktok* suara ketukan pintu , mengetuk di pintu kamar Silvi , Cyntia dan Elke . dengan wajah yang masih mengantuk Silvi membuka pintu kamarnya “Assalamualaikum” ternyata orang tua Silvibeserta orang tua teman-teman lainnya datang juga “ayah. Mama” Silvi memeluk erat kedua orang tuanya itu , terlihat teman-teman yang lain juga melakukan hal yang sama seperti silvi .

                             Pagi tepat jam 9 mereka pergi menuju ke sekolah untuk memberi bantuan kepada sekolah itu tetapi sebelum menuju ke sekolah itu mereka terkaget-kaget melihat bantuan itu ada 1 truck . Semua  ,ada di dalam truck ini. Ini diluar dugaan mereka semua orang tua mereka begitu mendukung bahkan mencarikan relawan yang mau membantu biaya dari rencana ini tentunya tidak dengan jumlah sedikit. Terlihat murid-murid disana begitu senang atas bantuan mereka . Saat mereka pamitan akan pulang kembali ke Surabaya , semua murid di Sekolah itu menangis bahagia, ucapan terimakasih tak henti-hentinya diucapkan dari bibir warga desa Ajikuning atas bantuan yang mereka berikan kepada Desa ini . Keesokan harinya mereka pulang kembali ke Surabaya , doa warga Ajikuning selalu menyertai mereka .

Tidak ada komentar:

Posting Komentar